|
Selasa, 08 April 2008 |
|
ROSID DAN Delia duduk di ruang tamu sebuah rumah tua yang terletak di jalan Purworejo, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka tak saling berbicara, hanya mengamati segala sesuatu yang ada di dalam rumah sederhana namun asri itu. Mereka duduk di Sofa berbahan beludru warna hitam yang tampak mulai botak di sana-sini. Sebuah lampu duduk yang diletakkan di atas meja kecil di pojok ruangan, menyala hangat. Berbagai macam foto dalam bingkai tergantung di dinding bercat warna pastel. Ada foto hitam-putih seorang anak kecil kurus dengan rambut berombak dan berminyak, disisir rapi ke samping. Wajah anak itu tampak ketakutan. Mungkin ia merasa tegang sewaktu diminta untuk memandang kamera.
"Itu pasti foto mas Anto," kata Delia ketika melihat Rosid menatap foto itu.
Sebuah rak yang dirapatkan ke salah satu sisi dinding, memanjang hampir memenuhi setengah panjang ruangan. Rak panjang yang dipenuhi buku itu menjadikan rumah ini sedikit mirip perpus-takaan sekolah. Di tengah-tengah ruangan, terdapat satu meja pendek dari kayu berpelitur coklat gelap. Selembar karpet berbulu warna coklat muda terbentang dengan beberapa bantal kecil berserakan di atasnya. Sebuah piano tua diletakkan menghadap dinding pemisah ruangan, tepat di sebelah pintu yang menghubungkan dengan ruangan dalam. Wanita tua berkain batik yang tadi telah mempersilahkan Rosid dan Delia duduk di ruang tamu, muncul dari balik pintu itu. Rambutnya seputih baju berlengan pendek yang dikenakannya. Selembar serbet putih dengan motif kotak-kotak merah disampirkan ke bahunya. Wanita tua itu mendekati Rosid dan Delia. "Disuruh tunggu, Den Anto-nya sedang mandi. Den bagus dan Den putri mau minum apa? Mbok akan bikinkan," kata wanita tua itu ramah. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Jumat, 14 Maret 2008 |
|
Said terdiam sesaat. Kemudian ia menemukan jawaban, "Tapi kite musti terus ikhtiar. Kan ade ayatnye, kalau kite kagak usahe, Allah kagak bakalan ngerobah nasib kite."
Mansur memicingkan mata, seperti sedang berpikir keras. Dalam keadaan marah, orang terkadang memang lebih kritis. Ia terus bertanya, "Tapi kalau semuanye udeh maktub, buat ape kite usahe?"
Said terdiam lagi. Kali ini dia benar-benar tak tahu jawabannya. Lalu katanya, "Kite kagak boleh nanya-nanya yang begituan. Itu same aje kite ngeraguin takdir. Ente percaye ame takdir, kan?"
Mansur bangkit melayani seorang calon pembeli. Said ingin merokok, tapi mulutnya terasa pahit. Ia ingin mengecap kopi. Tidak seperti kunjungan pertamanya ke toko ini, Abdullah langsung menawarinya kopi jahe begitu ia meletakkan pantatnya di kursi. Kali ini tak ada tawaran apapun sejak tadi. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Senin, 03 Maret 2008 |
|
Mansur menggigit bibir bawahnya. Ia sedang berusaha keras menahan rasa gembiranya agar tak meledak jadi tawa. Tapi ia tak bisa; ia terlalu gembira. Mulutnya menganga, tulang-tulang bahunya terguncang-guncang oleh ledakan tawa. Rasanya ia ingin terbang menemui Said dan menciumi kepalanya. Tapi tiba-tiba, bahu kanan Rosid sudah sejajar dengan pintu samping rumah yang memang sudah terbuka. Rosid bisa mereka-reka kemungkinan yang akan terjadi, segera setelah ia melepaskan kata-kata yang sudah siap meluncur dari mulutnya. Mansur pun mencium adanya gelagat buruk yang meruap memenuhi udara. Tangannya meraba meja makan dan mencari-cari sesuatu, tatapan matanya tak beralih dari Rosid. Mansur memang tak bisa melihat pintu samping itu karena terhalang oleh lemari. Tapi ia masih bisa melihat Rosid; anak itu masih berdiri beberapa meter berhadap-hadapan dengannya.
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Jumat, 15 Pebruari 2008 |
|
"Thanks, Del," kata Rosid tersenyum. Delia balas tersenyum, dan senyuman itu selalu saja membuat Rosid gemas. Itulah yang membuat Rosid ingin berdekatan dengan gadis itu selamanya. Tapi ketika Rosid melihat kalung yang menggantung indah di leher Delia, lelaki itu menjadi ragu. Aku harap kalung itu tak akan pernah menjadi penghalang bagi keinginanku untuk selamanya bersamamu, Delia. Rosid mengalihkan pandangannya.
8
MAKAN MALAM sudah tersedia di meja. Menu hari ini nasi uduk dan ayam goreng, lengkap dengan sambal kacangnya. Makanan itu termasuk dalam menu favorit Rosid. Nasi uduk bikinan Umi tak kalah enaknya dengan nasi uduk Kebon Kacang yang terkenal itu.
"Makan yang banyak, Sid. Biar gemukan badan lu," kata Ayahnya sambil menyorongkan piring berisi ayam goreng ke depan Rosid. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Sabtu, 02 Pebruari 2008 |
|
Delia terdiam. Ia menyalakan sebatang rokok, menghembuskan asapnya dengan cepat, dan berkata,"Sid, gimana kalo ternyata Abah memang benar-benar berubah pikiran, artinya Abah sudah tidak lagi menganggap peci sebagai masalah besar yang ada kaitannya dengan agama?" "Ya mudah-mudahan." "Maksudku, apa kamu masih tetap mau berusaha membuktikan bahwa peci itu tidak ada hubungannya dengan agama?" "Iya, tetap. Aku sudah terlanjur ingin tahu," jawab Rosid sambil meletakkankembali cangkir kopinya di atas meja.
"Kemarin aku sempat nanya sama Papa soal peci putih yang dipakai Paus. Tapi papa bilang jangan nanya-nanya hal seperti itu. Kayaknya Papa juga sama sekali nggak tahu soal itu." Delia dan Rosid sama-sama tertawa. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
| | << Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 Selanjutnya > Akhir >>
| | Hasil 1 - 9 dari 29 |
|
|
Iklan Baris
|