|
Salak, Duku dan Emping Condet |
|
|
|
|
Jumat, 28 Desember 2007 |
|
Pemda DKI Jakarta ingin mengangkat kembali reputasi kawasan Condet, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, sebagai penghasil buahbuahan terbesar di Jakarta. Pemda DKI telah membebaskan lahan seluas dua hektar untuk cagar buah, yang terletak di kelurahan Batu Ampar. Di antara buah-buahan hasil bumi Condet, buah salak, duku, melinjo, dan kecapi, dikenal masyarakat luas.
Bukan hanya di Jakarta, tapi sampai ke daerah Bogor dan sekitarnya, karena rasanya yang lebih manis dibanding buah-buahan daerah lain. Salak Condet bagitu dikenal di masa lalu, karena rasanya manis dan masir. Jauh lebih manis dibanding salak pondoh dari Yogyakarta. Salak yang kini populer dan paling banyak dipasarkan di Jakarta, belum ada apa-apanya dibandiungkan salak Condet, kata sejumlah warga di Condet, yang dulu memiliki kebun salak di kediamannya.
Apalagi kalau dibandingkan salak Bali. Sayangnya, Condet sebagai penghasil salak terkenal di Jakarta itu kini tinggal kenangan. Sudah hampir tidak ditemui lagi pohonpohon salak yang tersisa, bila kitas menjelajahi kawasan yang sebagian besar penduduknya warga Betawi itu. Condet kini sudah menjadi 'hutan beton'. Sampai-sampai para penjual buah-buahan di Condet tidak lagi menjual salak dari daerah kelahirannya. Mereka menjual salak pondoh.
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Asal-Usul Nama Cawang, Cililitan dan Hek |
|
|
|
|
Selasa, 04 September 2007 |
|
Cawang Nama kawasan tersebut berasal dari nama seorang Letnan Melayu yang mengabdi kepada Kompeni, yang bermukim disitu bersama pasukan yang dipimpinnya, bernama Enci Awang.(Awang, mungkin panggilan dari Anwar). Lama – kelamaan sebutan Enci Awang berubah menjadi Cawang. Letnan Enci Awang adalah bawahan dari Kapten Wan Abdul Bagus, yang bersama pasukannya bermukim dikawasan yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Melayu, sebelah selatan Jatinegara. Kurang jelas, apakah sebagian atau seluruhnya, pada tahun 1759 Cawang sudah menjadi milik Pieter van den Velde, di samping tanah – tanah miliknya yang lain seperti Tanjungtimur atau Groeneveld, Cikeas, Pondokterong, Tanjungpriuk dan Cililitan (De Haan, 1910:50). |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ketika Condet hampir digusur... |
|
|
|
|
Selasa, 14 Agustus 2007 |
|
Hampir-hampir daerah Condet mengalami nasib serupa dengan daerah Senayan yang oleh Bung Karno dijadikan kompleks olahraga. Tentunya orang Senayan asli kini berpencar tinggal di mana-mana. Di tahun 1963 ada rencana untuk menjadikan daerah Condet menjadi kompleks kampus Universitas Bung Karno (UBK). Konon rencananya kompleks kampus itu akan mencapai hingga Kampung Tengah. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Sabtu, 04 Agustus 2007 |
|
Menurut Bintang Betawipada tanggal 18 November 1903 telah meninggal dunia Tjaling Ament, tuan tanah Tanjung Oost (Tanjung Timur) dalam usia 76 tahun. Jenazahnya dibawa dari rumahnya di Gambir untuk dikuburkan di Tanjung Timur. Sejumlah pembesar gubernemen, terutama dari kantor asisten residen Meester Cornelis, datang melayat. Sejak beberapa waktu yang lalu Ament tidak tinggal lagi di Tanjung Timur, karena kawasan itu tidak aman, sering disatroni perampok. Padahal landhuis (rumah peristirahatan) di Tanjung Timur itu sangat besar dan merupakan bangunan yang terkenal di masa kumpeni. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Rabu, 04 Juli 2007 |
|
Pada tahun 1860 di Condet pernah tinggal seorang pangeran yang tidak diketahui asal-usulnya bernama Pangeran Geger dengan istrinya yang bernama Polong. Pangeran ini memiliki tanda bekas luka di dahinya yang bahasa B e t a w i n y a disebut "codet"s e h i n g g a Pangeran Geger d i j u l u k i " P a n g e r a n Codet". Konon nama Condet berasal dari nama julukan ini. Pangeran Geger memiliki lima orang anak yaitu Wake, Yaome, Dariah, Siti Maemunah, Lijahm dan Encih. Di antara kelima putra-putrinya itu Siti maemunah lah yang palingm menonjol karena paras cantik, kecerdikan dan ketrampilannya. Pada waktu itu di sebelah timur Condet berdiam seorang pangeran asal Ujung Pandang bernama Pangeran Tenggara yang mempunyai seorang putra sakti berilmu ghaib bernama Pangeran Astawana. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
| |
|
|
Iklan Baris
|